STRES
Stres adalah suatu kondisi anda
yang dinamis saat seorang individu dihadapkan padapeluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individuitu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan
penting.[1] Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu
sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. Efek – efek Stres
yaitu :
1. Membantu sel kanker bertahan
hidup
Alam studi yang dilakukan Wake Forest University dengan menggunakan hewan percobaan menunjukkan stres dapat membantu sel-sel kanker bertahan terhadap obat anti-kanker. Hasil ini dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation.
Alam studi yang dilakukan Wake Forest University dengan menggunakan hewan percobaan menunjukkan stres dapat membantu sel-sel kanker bertahan terhadap obat anti-kanker. Hasil ini dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation.
2. Otak jadi menyusut
Studi baru dari Yale University menunjukkan stres seperti akibat kerjaan atau perceraian benar-benar bisa mengecilkan otak dengan mengurangi materi abu-abu di daerah yang terkait dengan emosi dan fungsi fisiologis.
Studi baru dari Yale University menunjukkan stres seperti akibat kerjaan atau perceraian benar-benar bisa mengecilkan otak dengan mengurangi materi abu-abu di daerah yang terkait dengan emosi dan fungsi fisiologis.
4. Efek stres bisa diturunkan ke generasi berikutnya
Efek stres yang ada dalam gen seseorang bisa diwariskan dari generasi ke generasi, jadi tidak hanya berdampak pada orang itu sendiri tapi juga keturunannya. Sebelumnya efek gen ini dianggap terhapus pada generasi sebelumnya, tapi ternyata tidak, karena bisa menurun ke generasi berikutnya.
Efek stres yang ada dalam gen seseorang bisa diwariskan dari generasi ke generasi, jadi tidak hanya berdampak pada orang itu sendiri tapi juga keturunannya. Sebelumnya efek gen ini dianggap terhapus pada generasi sebelumnya, tapi ternyata tidak, karena bisa menurun ke generasi berikutnya.
5. Memicu gejala depresi
Penelitian dari U.S. National Institute on Mental Health menunjukkan stres berperan dalam perkembangan depresi dan mempengaruhi perilaku, seperti mudah menyerah dan merasa sedih setiap waktu. Jika sudah terjadi depresi, maka perlu bantuan dokter dalam menanganinya.
Penelitian dari U.S. National Institute on Mental Health menunjukkan stres berperan dalam perkembangan depresi dan mempengaruhi perilaku, seperti mudah menyerah dan merasa sedih setiap waktu. Jika sudah terjadi depresi, maka perlu bantuan dokter dalam menanganinya.
6. Meningkatkan risiko penyakit kronis
Dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine peneliti mengungkapkan orang yang lebih tertekan dan cemas mengenai tekanan kehidupan sehari-hari cenderung lebih berisiko memiliki kondisi kesehatan kronis (gangguan jantung atau arthritis) dalam waktu 10 tahun mendatang, dibanding dengan orang yang menjalani hidup lebih santai.
Dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine peneliti mengungkapkan orang yang lebih tertekan dan cemas mengenai tekanan kehidupan sehari-hari cenderung lebih berisiko memiliki kondisi kesehatan kronis (gangguan jantung atau arthritis) dalam waktu 10 tahun mendatang, dibanding dengan orang yang menjalani hidup lebih santai.
7. Risiko stroke meningkat
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery and Psychiatry mendapatkan orang yang stres lebih mungkin memiliki risiko stroke lebih tinggi. Orang yang sering stres dan memiliki tipe perilaku A (sering merasa tegang, tidak sabaran dan agresif) berhubungan dengan risiko tinggi stroke, dan hubungan ini tidak berdasarkan jenis kelamin.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery and Psychiatry mendapatkan orang yang stres lebih mungkin memiliki risiko stroke lebih tinggi. Orang yang sering stres dan memiliki tipe perilaku A (sering merasa tegang, tidak sabaran dan agresif) berhubungan dengan risiko tinggi stroke, dan hubungan ini tidak berdasarkan jenis kelamin.
8. Membahayakan kesehatan jantung
Merasa cemas dan stres dihubungkan dengan risiko 27 persen lebih tinggi terkena serangan jantung. Stres ini tidak hanya tingkatkan risiko serangan jantung, tapi juga mempengaruhi seberapa baik seseorang bisa bertahan setelah kena serangan jantung.
Merasa cemas dan stres dihubungkan dengan risiko 27 persen lebih tinggi terkena serangan jantung. Stres ini tidak hanya tingkatkan risiko serangan jantung, tapi juga mempengaruhi seberapa baik seseorang bisa bertahan setelah kena serangan jantung.
Selye General Adaption Syndrom dari Hans
Menurut Hans Selye, ahli
endokrinologi terkenal di awal 1930, tidak semua jenis stres yang merugikan,
dengan demikian, ia datang dengan eustress dan kesusahan. Kita semua melakukan
menjalani ringan, saat-saat singkat dan dikendalikan dari ketegangan saraf yang
dianggap umum, dan bertindak sebagai rangsangan positif terhadap pertumbuhan
seseorang intelektual dan emosional. Selye disebut eustress ini. Ia didefinisikan
distres menjadi sesuatu yang sebaliknya dan ditandai dengan tekanan fisik dan
psikologis yang parah yang mengganggu kesehatan umum.
“Every stress leaves an indelible scar, and
the organism pays for its survival after a stressful situation by becoming a
little older.”
~ Hans
Selye
Faktor Sosial :
-
Faktor lingkungan
Selain
memengaruhi desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga
memengaruhi tingkat stres para karyawan dan
organisasi.[2] Perubahan
dalam siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika
kelangsungan pekerjaan terancam maka seseorang mulai khawatir ekonomi akan
memburuk.[2]
-
Faktor organisasi
Banyak
faktor di dalam organisasi yang
dapat menyebabkan stres. [4] Tekanan
untuk menghindari kesalahaan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet,
beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, dan
rekan kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa di antaranya.[2] Hal
ini dapat mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi tuntutan tugas, peran, dan
antarpribadi.[4]
Tuntutan
tugas adalah faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang.[4] Tuntutan
tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak
fisik pekerjaan.[4] Sebagai
contoh, bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang
selalu terganggu oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres.[5] Dengan
semakin pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktor emosional bisa
menjadi sumber stres.[5]
Tuntutan
peran berkaitan dengan tekanan yang
diberikan kepada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya
dalam organisasi.[4] Konflik
peran menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau
dipenuhi.[4]
Tuntutan
antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan.[4] Tidak
adanya dukungan dari kolega dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat
meyebabkan stres, terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan
sosial yang tinggi.[4]
Faktor Individual :
-
Faktor pribadi
Faktor-faktor
pribadi terdiri dari masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan
karakter yang melekat dalam diri seseorang.[2]
Survei
nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan
pribadi. berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan
kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak adalah beberapa contoh masalah hubungan yang
menciptakan stres.[6]
Masalah
ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala
pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi
kerja karyawan.[2] Studi
terhadap tiga organisasi yang
berbeda menunjukkan bahwa gejala-gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai
pekerjaan sebagian besar merupakan varians dari berbagai gejala stres yang
dilaporkan sembilan bulan kemudian.[7] Hal
ini membawa para peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki
kecenderungan kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara
umum.[7] Jika
kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi
stres adalah sifat dasar seseorang.[7] Artinya,
gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal
dari kepribadian orang
itu.[7]
Tipe-tipe stress
Tipe-tipe
stress :
- Tekanan : Yang dimaksud dengan
tekanan (stress) adalah suatu jenis unsur suprasegmental yang ditandai oleh
keras-lembutnya arus ujaran .
- Frustasi : dari bahasa latin frustratio, adalah perasaan kecewa akibat terhalang dalam pencapaian tujuan.Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan.Rasa frustrasi bisa menjurus ke stress. atau Frustasi dapat berasal dari dalam (internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya.Sumber yang berasal dari dalam termasuk kekurangan diri sendiri seperti kurangnya rasa percaya diri atau ketakutan pada situasi sosial yang menghalangi pencapaian tujuan.konflik juga dapat menjadi sumber internal dari frustrasi saat seseorang mempunyai beberapa tujuan yang saling berinterferensi satu sama lain. Penyebab eksternal dari frustrasi mencakup kondisi-kondisi di luar diri seperti jalan yang macet, tidak punya uang, atau tidak kunjung mendapatkan jodoh.
- Frustasi : dari bahasa latin frustratio, adalah perasaan kecewa akibat terhalang dalam pencapaian tujuan.Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan.Rasa frustrasi bisa menjurus ke stress. atau Frustasi dapat berasal dari dalam (internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya.Sumber yang berasal dari dalam termasuk kekurangan diri sendiri seperti kurangnya rasa percaya diri atau ketakutan pada situasi sosial yang menghalangi pencapaian tujuan.konflik juga dapat menjadi sumber internal dari frustrasi saat seseorang mempunyai beberapa tujuan yang saling berinterferensi satu sama lain. Penyebab eksternal dari frustrasi mencakup kondisi-kondisi di luar diri seperti jalan yang macet, tidak punya uang, atau tidak kunjung mendapatkan jodoh.
- Konflik : timbul
karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam keinginan,
kebutuhan atau tujuan. Ada 3 jenis konflik, yaitu :
a. Approach-approach conflict
b.Avoidance-avoidance conflict
c.Approach-avoidance conflict
- Kecemasan :
keadaan mendadak yang menimbulkan stres pada individu, misalnya kematian orang
yang disayangi, kecelakaan dan penyakit yang harus segera dioperasi.
Symptom-Reducing
Responses terhadap stress
Kehidupan akan terus
berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Individu yang mengalami stress tidak
akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap
individu memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya
masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada. Berikut mekanisme
pertahana diri (defense mechanism) yang biasa digunakan individu untuk
dijadiakan strategi saat menghadapi stress:
1. Indentifikasi
Identifikasi adalah suatu
cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan membuatnya
menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti orang lain
tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen pembimbingnya
memiiliki kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah, dan
sebagainya. Maka mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti
dosennya.
2. Kompensasi
Seorang individu tidak
memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di bidang
lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang Matematika, namun
prestasi olah raga yang ia miliki sangatlah memuaskan.
3. Overcompensation/
reaction formation
Perilaku seseorang yang
gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut
dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya
berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur gurunya
karena mengobrol saat upacara, bereaksi dengan menjadi sangat tertib saat
melaksanakan upacara dan menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
4. Sublimasi
Sublimasi adalah suatu
mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu
konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam
bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi.
Misalnya sifat agresifitas yang disalurkan menjadi petinju atau tukang potong
hewan.
5. Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme
perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri
atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Mutu proyeksi lebih
rendah daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak menyukai temannya,
namun ia berkata temannyalah yang tidak menyukainya.
6. Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan
dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seoarang wanita
mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut ke dalam
pribadinya.
7. Reaksi konversi
Secara singkat mengalihkan
konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalkan belum belajar
saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya menjadi pucat dan
berkeringat.
8. Represi
Represi adalah konflik
pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke
dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang karyawan
yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh bosnya tadi siang.
9. Supresi
Supresi yaitu menekan
konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau
memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata
“Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”
10. Denial
Denial adalah mekanisme
perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya seorang
penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi pantangannya.
11. Regresi
Regresi adalah mekanisme
perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri
dari pergaulan dengan lingkunganya. Misalnya artis yang sedang digosipkan
berselingkuh, karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
12. Fantasi
Fantasi adalah apabila
seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan
berkhayal/berfntasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak
memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi
dirinya dengan orang yang ia cintai.
13. Negativisme
Adalah perilaku seseorang
yang selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak
terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah gurunya dengan bolos
sekolah.
14. Sikap mengkritik orang lain
Bentuk pertahanan diri untuk
menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk perilaku
agresif yang aktif (terbuka). Misalkan seorang karyawan yang berusaha
menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.
Startegi
coping yang spontan mengatasi stress
Coping strategy merupakan
koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit
atau stressor yang dihadapinya. Metode koping bisa diperoleh dari proses
belajar dan beberapa relaksasi. Jika individu menggunaan strategi koping yang
efektif dan cocok dengan stressor yang dihadapinya, stressor tersebut tidak
akan menimbulkan sakit (disease), tetapi stressor tersebut akan menjadi suatu
stimulan yang memberikan wellness dan prestasi.Untuk mengatasi stres “minor”,
individu dapat melakukan berbagai macam koping spontan dan sederhana. Tidak
perlu memerlukan banyak biaya dan waktu yang dikorbankan. Stres “minor”
merupakan stres yang tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap individu yang
merasakannya. Misalnya seperti kecelakaan, mendapat nilai yang buruk di rapot,
telat datang ke kantor, dan lain sebagainya.
Pendekatan
problem solving terhadap stress
Selain mekanisme pertahanan
diri yang digunakan untuk mengatasi serta mengurangi stress yang timbul karena
adanya stressor, individu dapat juga menggunakan berbagai strategi coping yang
spontan untuk mengatasi stress “minor”.
Tugas Softskill
Kesehatan Mental
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Stres
Tidak ada komentar:
Posting Komentar