Tulisan Ke-4
STRES
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan padapeluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individuitu dan yang hasilnya dipandang tidak
pasti dan penting.[1] Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan
maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.
Efek – efek Stres yaitu :
1. Membantu sel
kanker bertahan hidup
alam studi yang dilakukan Wake Forest University dengan menggunakan hewan percobaan menunjukkan stres dapat membantu sel-sel kanker bertahan terhadap obat anti-kanker. Hasil ini dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation.
alam studi yang dilakukan Wake Forest University dengan menggunakan hewan percobaan menunjukkan stres dapat membantu sel-sel kanker bertahan terhadap obat anti-kanker. Hasil ini dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation.
2. Otak jadi menyusut
Studi baru dari Yale University menunjukkan stres seperti akibat kerjaan atau perceraian benar-benar bisa mengecilkan otak dengan mengurangi materi abu-abu di daerah yang terkait dengan emosi dan fungsi fisiologis.
Studi baru dari Yale University menunjukkan stres seperti akibat kerjaan atau perceraian benar-benar bisa mengecilkan otak dengan mengurangi materi abu-abu di daerah yang terkait dengan emosi dan fungsi fisiologis.
4. Efek stres bisa diturunkan ke
generasi berikutnya
Efek stres yang ada dalam gen seseorang bisa diwariskan dari generasi ke generasi, jadi tidak hanya berdampak pada orang itu sendiri tapi juga keturunannya. Sebelumnya efek gen ini dianggap terhapus pada generasi sebelumnya, tapi ternyata tidak, karena bisa menurun ke generasi berikutnya.
Efek stres yang ada dalam gen seseorang bisa diwariskan dari generasi ke generasi, jadi tidak hanya berdampak pada orang itu sendiri tapi juga keturunannya. Sebelumnya efek gen ini dianggap terhapus pada generasi sebelumnya, tapi ternyata tidak, karena bisa menurun ke generasi berikutnya.
5. Memicu gejala depresi
Penelitian dari U.S. National Institute on Mental Health menunjukkan stres berperan dalam perkembangan depresi dan mempengaruhi perilaku, seperti mudah menyerah dan merasa sedih setiap waktu. Jika sudah terjadi depresi, maka perlu bantuan dokter dalam menanganinya.
Penelitian dari U.S. National Institute on Mental Health menunjukkan stres berperan dalam perkembangan depresi dan mempengaruhi perilaku, seperti mudah menyerah dan merasa sedih setiap waktu. Jika sudah terjadi depresi, maka perlu bantuan dokter dalam menanganinya.
6. Meningkatkan risiko penyakit kronis
Dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine peneliti mengungkapkan orang yang lebih tertekan dan cemas mengenai tekanan kehidupan sehari-hari cenderung lebih berisiko memiliki kondisi kesehatan kronis (gangguan jantung atau arthritis) dalam waktu 10 tahun mendatang, dibanding dengan orang yang menjalani hidup lebih santai.
Dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine peneliti mengungkapkan orang yang lebih tertekan dan cemas mengenai tekanan kehidupan sehari-hari cenderung lebih berisiko memiliki kondisi kesehatan kronis (gangguan jantung atau arthritis) dalam waktu 10 tahun mendatang, dibanding dengan orang yang menjalani hidup lebih santai.
7. Risiko stroke meningkat
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery and Psychiatry mendapatkan orang yang stres lebih mungkin memiliki risiko stroke lebih tinggi. Orang yang sering stres dan memiliki tipe perilaku A (sering merasa tegang, tidak sabaran dan agresif) berhubungan dengan risiko tinggi stroke, dan hubungan ini tidak berdasarkan jenis kelamin.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery and Psychiatry mendapatkan orang yang stres lebih mungkin memiliki risiko stroke lebih tinggi. Orang yang sering stres dan memiliki tipe perilaku A (sering merasa tegang, tidak sabaran dan agresif) berhubungan dengan risiko tinggi stroke, dan hubungan ini tidak berdasarkan jenis kelamin.
8. Membahayakan kesehatan jantung
Merasa cemas dan stres dihubungkan dengan risiko 27 persen lebih tinggi terkena serangan jantung. Stres ini tidak hanya tingkatkan risiko serangan jantung, tapi juga mempengaruhi seberapa baik seseorang bisa bertahan setelah kena serangan jantung.
Merasa cemas dan stres dihubungkan dengan risiko 27 persen lebih tinggi terkena serangan jantung. Stres ini tidak hanya tingkatkan risiko serangan jantung, tapi juga mempengaruhi seberapa baik seseorang bisa bertahan setelah kena serangan jantung.
Selye General Adaption Syndrom dari Hans
Menurut Hans Selye,
ahli endokrinologi terkenal di awal 1930, tidak semua jenis stres yang
merugikan, dengan demikian, ia datang dengan eustress dan kesusahan. Kita semua
melakukan menjalani ringan, saat-saat singkat dan dikendalikan dari ketegangan
saraf yang dianggap umum, dan bertindak sebagai rangsangan positif terhadap
pertumbuhan seseorang intelektual dan emosional. Selye disebut eustress ini. Ia
didefinisikan distres menjadi sesuatu yang sebaliknya dan ditandai dengan
tekanan fisik dan psikologis yang parah yang mengganggu kesehatan umum.
“Every stress leaves an indelible scar, and
the organism pays for its survival after a stressful situation by becoming a
little older.”
~
Hans Selye
Faktor Sosial :
-
Faktor lingkungan
Selain
memengaruhi desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga memengaruhi
tingkat stres para karyawan dan organisasi.[2] Perubahan dalam
siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika kelangsungan
pekerjaan terancam maka seseorang mulai khawatir ekonomi akan memburuk.[2]
-
Faktor organisasi
Banyak
faktor di dalam organisasi yang dapat
menyebabkan stres. [4] Tekanan untuk
menghindari kesalahaan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet, beban
kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, dan rekan
kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa di antaranya.[2] Hal ini dapat
mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi tuntutan tugas, peran, dan
antarpribadi.[4]
Tuntutan
tugas adalah faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang.[4] Tuntutan tersebut
meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak fisik
pekerjaan.[4] Sebagai contoh,
bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang selalu terganggu
oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres.[5] Dengan semakin
pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktor emosional bisa menjadi sumber
stres.[5]
Tuntutan
peran berkaitan dengan tekanan yang diberikan kepada
seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya dalam organisasi.[4] Konflik peran
menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau dipenuhi.[4]
Tuntutan
antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan.[4] Tidak adanya dukungan
dari kolega dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat meyebabkan stres,
terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.[4]
Faktor Individual :
-
Faktor pribadi
Faktor-faktor
pribadi terdiri dari masalah keluarga,
masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang
melekat dalam diri seseorang.[2]
Survei
nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan pribadi. berbagai
kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan kesulitan masalah
disiplin dengan anak-anak
adalah beberapa contoh masalah hubungan yang menciptakan stres.[6]
Masalah
ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala
pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi
kerja karyawan.[2] Studi terhadap tiga organisasi yang berbeda
menunjukkan bahwa gejala-gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai pekerjaan
sebagian besar merupakan varians dari berbagai gejala stres yang dilaporkan
sembilan bulan kemudian.[7] Hal ini membawa para
peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan
kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum.[7] Jika kesimpulan ini benar,
faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar
seseorang.[7] Artinya, gejala stres
yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.[7]
Tipe-tipe stress
Tipe-tipe
stress :
- Tekanan : Yang dimaksud dengan
tekanan (stress) adalah suatu jenis unsur suprasegmental yang ditandai oleh
keras-lembutnya arus ujaran .
- Frustasi : dari bahasa latin frustratio, adalah perasaan kecewa akibat terhalang dalam pencapaian tujuan.Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan.Rasa frustrasi bisa menjurus ke stress. atau Frustasi dapat berasal dari dalam (internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya.Sumber yang berasal dari dalam termasuk kekurangan diri sendiri seperti kurangnya rasa percaya diri atau ketakutan pada situasi sosial yang menghalangi pencapaian tujuan.konflik juga dapat menjadi sumber internal dari frustrasi saat seseorang mempunyai beberapa tujuan yang saling berinterferensi satu sama lain. Penyebab eksternal dari frustrasi mencakup kondisi-kondisi di luar diri seperti jalan yang macet, tidak punya uang, atau tidak kunjung mendapatkan jodoh.
- Frustasi : dari bahasa latin frustratio, adalah perasaan kecewa akibat terhalang dalam pencapaian tujuan.Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan.Rasa frustrasi bisa menjurus ke stress. atau Frustasi dapat berasal dari dalam (internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya.Sumber yang berasal dari dalam termasuk kekurangan diri sendiri seperti kurangnya rasa percaya diri atau ketakutan pada situasi sosial yang menghalangi pencapaian tujuan.konflik juga dapat menjadi sumber internal dari frustrasi saat seseorang mempunyai beberapa tujuan yang saling berinterferensi satu sama lain. Penyebab eksternal dari frustrasi mencakup kondisi-kondisi di luar diri seperti jalan yang macet, tidak punya uang, atau tidak kunjung mendapatkan jodoh.
- Konflik
: timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam
keinginan, kebutuhan atau tujuan. Ada 3 jenis konflik, yaitu :
a. Approach-approach conflict
b.Avoidance-avoidance conflict
c.Approach-avoidance conflict
- Kecemasan
: keadaan mendadak
yang menimbulkan stres pada individu, misalnya kematian
orang yang disayangi, kecelakaan dan penyakit yang harus segera dioperasi.
Symptom-Reducing
Responses terhadap stress
Kehidupan akan terus
berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Individu yang mengalami stress tidak
akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap
individu memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya
masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada. Berikut mekanisme
pertahana diri (defense mechanism) yang biasa digunakan individu untuk
dijadiakan strategi saat menghadapi stress:
1. Indentifikasi
Identifikasi adalah
suatu cara yang digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan membuatnya
menjadi kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti orang lain
tersebut. Misalnya seorang mahasiswa yang menganggap dosen pembimbingnya memiiliki
kepribadian yang menyenangkan, cara bicara yang ramah, dan sebagainya. Maka
mahasiswa tersebut akan meniru dan berperilaku seperti dosennya.
2. Kompensasi
Seorang individu
tidak memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di
bidang lain. Misalnya Andi memiliki nilai yang buruk dalam bidang Matematika,
namun prestasi olah raga yang ia miliki sangatlah memuaskan.
3. Overcompensation/
reaction formation
Perilaku seseorang
yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama
tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang
biasanya berlawanan dengan tujuan pertama. Misalnya seorang anak yang ditegur
gurunya karena mengobrol saat upacara, bereaksi dengan menjadi sangat tertib
saat melaksanakan upacara dan menghiraukan ajakan teman untuk mengobrol.
4. Sublimasi
Sublimasi adalah
suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu
konflik dengan pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam
bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi.
Misalnya sifat agresifitas yang disalurkan menjadi petinju atau tukang potong
hewan.
5. Proyeksi
Proyeksi adalah
mekanisme perilaku dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di
luar diri atau melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Mutu
proyeksi lebih rendah daripada rasionalisasi. Contohnya seorang anak tidak
menyukai temannya, namun ia berkata temannyalah yang tidak menyukainya.
6. Introyeksi
Introyeksi adalah
memasukan dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya
seoarang wanita mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut
ke dalam pribadinya.
7. Reaksi
konversi
Secara singkat
mengalihkan konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik. Misalkan
belum belajar saat menjelang bel masuk ujian, seorang anak wajahnya menjadi
pucat dan berkeringat.
8. Represi
Represi adalah
konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan
ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan. Misalnya seorang
karyawan yang dengan sengaja melupakan kejadian saat ia dimarahi oleh bosnya
tadi siang.
9. Supresi
Supresi yaitu menekan
konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau
memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. Misalnya dengan berkata
“Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu lagi.”
10. Denial
Denial adalah
mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya
seorang penderita diabetes memakan semua makanan yang menjadi pantangannya.
11. Regresi
Regresi adalah
mekanisme perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia
menarik diri dari pergaulan dengan lingkunganya. Misalnya artis yang sedang
digosipkan berselingkuh, karena malu maka ia menarik diri dari perkumpulannya.
12. Fantasi
Fantasi adalah
apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan
berkhayal/berfntasi, misalnya dengan lamunan. Contoh seorang pria yang tidak
memiliki keberanian untuk menyatakan rasa cintanya melamunkan berbagai fantasi
dirinya dengan orang yang ia cintai.
13. Negativisme
Adalah perilaku
seseorang yang selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain dengan
perilaku tidak terpuji. Misalkan seorang anak yang menolak perintah gurunya
dengan bolos sekolah.
14. Sikap mengkritik orang lain
Bentuk pertahanan
diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk
perilaku agresif yang aktif (terbuka). Misalkan seorang karyawan yang berusaha
menjatuhkan karyawan lain dengan adu argument saat rapat berlangsung.
Startegi
coping yang spontan mengatasi stress
Coping strategy
merupakan koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam
mengatasi sakit atau stressor yang dihadapinya. Metode koping bisa diperoleh
dari proses belajar dan beberapa relaksasi. Jika individu menggunaan strategi
koping yang efektif dan cocok dengan stressor yang dihadapinya, stressor
tersebut tidak akan menimbulkan sakit (disease), tetapi stressor tersebut akan
menjadi suatu stimulan yang memberikan wellness dan prestasi.Untuk mengatasi
stres “minor”, individu dapat melakukan berbagai macam koping spontan dan
sederhana. Tidak perlu memerlukan banyak biaya dan waktu yang dikorbankan.
Stres “minor” merupakan stres yang tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap
individu yang merasakannya. Misalnya seperti kecelakaan, mendapat nilai yang
buruk di rapot, telat datang ke kantor, dan lain sebagainya.
Pendekatan
problem solving terhadap stress
Selain mekanisme
pertahanan diri yang digunakan untuk mengatasi serta mengurangi stress yang
timbul karena adanya stressor, individu dapat juga menggunakan berbagai
strategi coping yang spontan untuk mengatasi stress “minor”.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Stres
Tidak ada komentar:
Posting Komentar